Pages

Minggu, 30 Oktober 2011

Rain In The Afternoon

Hujan
Sebuah kata yang mampu menggambarkan berbagai banyak perasan.
Air dan hawa dingin seolah menjadi mengingatkan bahwa …
Sore ini akhirnya hujan setelah berbulan-bulan hujan tak kunjung datang.
***
Kehujanan.
Ya, hari ini kehujanan.
Memang bagaikan sebuah musibah.
Tapi lihat ada sebuah kenangan.
Lihat, lihat, lihat, lihat dan rasakan.
Hujan hari ini membawa sebuah senyuman.
Naik sepeda motor dan ke basahan.
Melewati gerbang sekolah di hari yang mulai petang.
Tak kuasa untuk mengurangi kecepatan.
Berhenti dan menatap, mencoba membentuk sebuah lengkungan.
***
Ingatkah ketika hujan?
Ketika selimut dan guling masih ingin terus di dekapan. Suara air yang turun perlahan, bagaikan melodi yang mencoba menantang untuk mencari sebuah kehangatan.

Ingatkah ketika hujan?
Pukul 5 pagi. Mata masih setia terpejam. Padahal hari itu tahu bahwa harus berangkat ke sekolah. Terbangun dengan sejuta pemikiran. Bukan sepatu melainkan sandal. Bukan kap mobil melainkan mantel hujan. Tambah kecepatan, membuat percikan. Menggerutu di sepanjang jalan. Lampu merah, terobos dan terus berjalan. Menyapa satpam di depan gerbang ‘Tolong pak jangan tutup pintu gerbangnya!’. Memasuki sebuah ruangan dengan hawa mencekam. Pandangan tertuju pada sebuah keadaan yang miris. Terlambat. Ya, terlambat. Pernahkah kalian?

Ingatkah ketika hujan?
Hujan tak kunjung reda. Mata menerawang dibalik jendela. Tak memperhatikan segala ucapan yang ada di depan. Mendung dan abu-abu. Ada sebuah sensasi. Sisa - sisa semerbak bau tanah yang menyapa hidung. Tersenyum dalam imajinasi sendiri.
Dan sekarang waktunya kembali, berdiri untuk memulai memberi informasi. Tapi sayang listrik mati. Berterima kasih lah karena telah diselamatkan. Hujan …

Ingatkah ketika hujan?
Suara bel dan semuanya bersorak. Ingin keluar tapi malas dengan keadaan. Hujan masih tak kunjung reda. Hai, lihat siapa di sana. Dia sedang duduk di atas balkon kelas. Sendirian memandang awan. Tanpa sadar mata mengarah ke pahatan Tuhan. Dibalik jendela kini terlukis sebuah harapan. Seandainya bisa, ingin rasanya ikut menjamu tamu di depan. Saling bertautan dan memberi senyum kemenangan.

Ingatkah ketika hujan?
Tidak ada jam pelajaran karena keterlambatan. Mungkin bagi mereka ada sedikit rasa bosan. Tapi, ada yang mampu membangkitkan sebuah kobaran. Petikan gitar dan sebuah nyanyian. Dari satu melodi ke melodi lainnya. Ada yang hanya diam tapi juga banyak yang bersuara. Bukan sebuah teriakan melainkan hasil dari sebuah pemikiran. Tanpa sadar waktu terus berjalan.

Ingatkah ketika hujan?
Saatnya kembali. Mereka berdua berjalan bersama. Saling mendekat di bawah atap yang sama. Saling mendekat di atas tempat yang sama. Saling memberi. Memerangi air dari Tuhan bersama. Memacu kecepatan. Berharap cepat sampai di tempat tujuan. Sebuah perjuangan kecil yang patut dihargai. Belajar untuk tidak hanya mencintai tapi juga saling memberi.
Hai. Mereka, yang lainnya juga mampu berjalan bersama. Saling berbagi tawa atas apa yang terjadi hari ini, kemarin dan sesuatu di esok hari. Lepas dan bebas, tanpa peduli dengan air yang diturunkan Tuhan. Saling membuat kegaduhan. Sepatu. Menjadi saksi bisu saat itu. Andai mampu berbicara. Entah-lah, protes akan sikap tuanya atau justru hanya diam menikmati sore dan tersenyum menatap apa yang terjadi dengan pahatan - pahatan Tuhan di atasnya.

Ingatkah ketika hujan?
Awan tak secerah biasanya. Tidak ada cahaya matahari menyorot di baliknya. Seandainya sendiri pasti sepi. Tapi sejatinya selalu ada mereka. Mereka yang ada di sekeliling kita.
***
Yang namanya gelap itu tidak ada. Yang ada hanya kekurangan cahaya.
Dan yang namanya kekurangan cahaya itu tidak selalu buruk.
***
Background Song
Adelaide Sky – Adhitia Sofyan

Jumat, 14 Oktober 2011

The Absurd Things

Hari ini ga tau kenapa gue merasa sangat-sangat galau, padahal hari ini bukan malam minggu ataupun hari valentine (yg gaul pasti tau maksud kalimat absurd ini). Pagi ini sarapan gue benar-benar ga wajar, kalau manusia normal makan nasi nah gue makan buku.. maklumlah gini-gini gue masih sekolah.
Fisika Oh Fisika! Apa sih yg tiba-tiba muncul di pikiran lo semua pas baca, lihat atau denger tentang kata yang satu ini? Pasti suatu hal yg menarik kan? Ngaku deh, ayo lagi mikir kan?
Nah, itu dia makanan yg gue bilang ga wajar. Dari semalem kira-kira dari 1945 atau ba'da isya gue berkutat dengan Fisika.
Gue sempat terbakar emosi waktu gue tahu si Fisika ini selingkuhin gue sama Matematika. Sakit banget waktu gue lihat sms mereka pake sayang-sayangan sin~ cos~ sakit sob. Gue ga nyangka… Udah gue bela-belain dari 1945 sampai 0000 kencan romantis, seromantis-mantisnya. Tidur cuma 4 jam, bangun gue bela-belain buat tahu keadaanya si Fisika ini gimana. Eh ujung-ujungnya gue di selingkuhin juga, suram sob.
Nah, akhirnya yg gue takutin terjadi juga. Kira-kira pas banget sama lahirnya kucing tetangga gue. Saat itu juga gue minta penjelasan sama si Fisika. Gue bertengkar hebat adu argumen ini itu. Dan parahnya pas itu juga gue sadar ternyata bukan gue aja yg terkena tipu muslihat si Fisika ini. Ada +/- 34 temen gue yg juga punya masalah yg sama. Gue ga tau modus apa yg di pake si Fisika ini, modus sms mama atau modus sedot pulsa I Dont Know!
Well, akhirnya pertengkaran yg ngalahin serunya supporter di GBK tadi malem itu berakhir karena waktu, kita sama-sama dikejar waktu toh hidup gue bukan untuk dia seorang kan? Dan hidup dia bukan gue seorang. Gue yakin di luar sana masih banyak anak-anak usia labil yg bakal jadi sasaran empuk si Fisika ini. Dan cerita ini pun berakhir dengan sendirinya.
Salam SPBU Fan!